INTP (introvert, Intuition, Thinking, Perception). Pribadi abstrak dan objektif. Kekuatan terbesar di bagian strategi. Unggul dalam setiap jenis penyelidikan logis seperti teknik, konseptualisasi, berteori, dan koordinasi. Itu hasil terakhir aku tes MBTI saat mahasiswa baru, 3 tahun lalu. Sekarang yang kurasa Thinking telah berubah menjadi Feeling. Kau tahu bagaimana sifat dari INFP? Bagiku dia adalah sastrawan pembual dengan angan-angan tinggi. Diriku tersesat. Aku kehilangan tulisan dan pikiran pergerakanku. Bedanya seorang aktivis dan bukan, bisa dilihat dari tulisannya. Membangun, memotivasi, solutif, dan berdasarkan data riil. Aku benci diriku saat ini. Tulisanku hanya kuluapkan berdasarkan perasaanku semata. Lagu-lagu mellow menjadi pengiring untuk mencapai khayalan tinggi.
Baik. Ambil nafas. Hembuskan.
Jika kau merasa jendela hatimu tertutup oleh debu tebal sehingga kau terperangkap dalam diri, tak mampu melihat luasnya dunia luar, yang harus kamu lakukan adalah membersihkannya! Basahi bibirmu dengan lantunan dzikir dan istighfar, usap hingga bersih jiwamu dengan ayat-ayat Al-Quran, dan minta pertolongan Allah untuk menjernihkan pikiranmu. Agar kau mampu memandang dunia luar. Hey, tanggung jawabmu bukan sekedar mengurus diri sendiri. Masalah umat masih banyak yang harus diselesaikan.
Bergeraklah!
Kau Selalu Jujur Bukan?
Aku belajar arti kejujuran yang sebenarnya darimu
Orang lain hanya melihat permukaan
Setiap pribadi memiliki masing-masing kelebihan dan kekurangan
Senakal-nakalnya kau harus tetap jujur, begitu katamu
Aku malu dibuatmu
Tak kuterima jika suatu hal berjalan tidak sempurna
Berharap semua berjalan sesuai dengan ekspektasi
Meski aku harus menutup kejujuran
Sebelum itu jujur hanyalah sekedar kata bagiku
Tak lebih dari diperkenalkan oleh guru TK
Namun melihatmu menepis tak kejujuranku
Hatiku seakan tertampar
Dengan segala ketidak sempurnaanmu, kau tetap saja jujur
Seolah mengatakan dengan tegas inilah diriku
Pipiku merona
Tak habisnya kutersenyum saat kau duduk di sampingku
Aku tertawa setuju saat kau berdalil
Dengan kejujuran itu, aku berani menaruh kata percaya padamu
Apakah kau merasakan seperti yang kurasakan?
Kau menjawab lugas, ya
Tak ada yang perlu kukhawatirkan
Kau pasti jujur bukan?
Tak perlu kutanya kau sedang apa dengan siapa
Yang kubutuhkan hanyalah secuil waktu dari kesibukanmu untuk kita
Berdialog tentang kuliah, keadaan kampus, isu nasional, teori kehidupan
Kau selalu tak suka bila kita bicara omong kosong
Membuatku semakin percaya menaruh hati ini padamu
Tak lama
Sungguh tak lama
Aku tak tahu kondisi kampus dan isu nasional dari sudut pandangmu
Aku bertemu denganmu saja tak bisa
Ah, bukan tak bisa tapi kau menolak
Yang kutahu kau menambah lagi kesibukanmu
Apakah kau sesibuk itu?
Jika tak bertemu, apakah sekedar membalas pesan juga tak mau?
Aku tak ingin bertanya masih adakah diriku di hatimu
Aku takut bila kenyataan tak berpihak padaku
Kau selalu jujur bukan?
Setiap orang pasti memiliki idealisme masing-masing dan tentu akan berhadapan dengan idealisme orang lain. Hm yah meskipun sekarang sedang merasakan entah itu dalam organisasi ataupun skala kecil dengan teman sekamarmu sendiri. Tapi suatu hari nanti kau harus beriringan dengan idealisme seseorang dalam segala aspek. Tidak bisa memilih dalam beberapa hal saja seperti kondisi saat ini. Apa jadinya kalau dalam hal mendasar saja tidak sejalan? Ya, memang banyak jalan menuju Roma. Tapi apakah kau dan seseorang itu memiliki tujuan yang sama menuju Roma? Yang tak kalah penting lagi, aturan-aturan untuk mencapainya apakah satu pedoman?
Maybe it just for a while..
Asal Mula Bahagia

Apa kau tahu modal dasar yang akan membuatmu bahagia? Perhatian, kejutan, humor, kebebasan, nyaman, terlindungi, sejahtera? Ya, semua itu memang membuatmu bahagia tapi itu bukanlah dasar yang akan melahirkan kebahagian-kebahagian lain. Bagiku kebahagian itu berawal dari iman yang sama-sama berjuang unntuk meraih ridho-Nya dan saling mengingatkan untuk menjauhi larangan-Nya.
Ini yang kurasakan ketika berada di kos pertamaku. Ketika kami bercanda, saling tukar cerita horor, jalan ke mall, yah itu bahagia tapi jadwal sholat berantakan atau melakukan amal kebaikan sendiri itu.. rasanya ada keresahan yang membuncah di dalam hati. Memang sama-sama muslim, tapi kalau tidak saling membangun yaa semua itu cuma kebahagiaan semu.
Lama kelamaan kami sholat berjamaah tepat waktu, mengaji bersama sehabis maghrib, hafalan bareng. Dari kegiatan itu muncullah kebahagiaan yang lain. Bahagia ketika makan mie berdua di panci yang katanya nggak etis kalau makan di panci tapi demi menghemat air disaat krisis air, bahagia bikin kue bola-bola dari singkong dengan resep kira-kira pas dicoba rasanya agak hmm tapi hasilnya enak setelah konsul ke mamak, bahagia bergantian menunggu jemuran kering demi tidak ada baju hilang dibawa si klepto di RT situ, bahagia berebut remot tv karena selera tontonan kami jauh berbeda ada yang dangdut, film india, film barat, berita, sinetron indonesia. Hal-hal kecil seperti itu sudah bisa membuat kami bahagia, bukan bahagia semu.
Kekurangan atau kesalahan yang aku atau dia perbuat akan timbul pemakluman tersendiri, saling mengimbangi, bahkan memperbaiki. Hal ini tidak akan terwujud apabila kami tidak ingin berubah menjadi lebih dekat dengan-Nya atau hanya sepihak ingin diajak tanpa mau mengajak.
Tahukah kau bagaimana memulai memunculkan kebahagiaan itu? Kuncinya adalah sholat berjamaah. Dari situ timbullah kedekatan secara emosional. Itulah mengapa pertama kali Rasulullah menginjakkan kaki di Kuba membangun Masjid Kuba.
Kalau menurutmu modal dasar untuk membuatmu bahagia apa?
